I. PENTINGNYA KECERDASAN EMOSI
Lama diyakini, bahwa kesuksesan orang dalam hidupnya ditentukan oleh intelegensi. Maka diciptakan alat/instrument untuk mengukur kecerdasan intelegensi (IQ). Namun berkembang paradigm baru, bahwa yang penting bagi keberhasilan hidup manusia adalah emosi. Sehingga diciptakan pula sarana bagaimana yang besifat emotif dapat diukur secara kuantitatif untuk mengetahui emosi seseorang (EQ)
EQ adalah kemampuan seseorang mengenali emosinya, sehingga tahu kelebihan dan kekurangan. Kemudian mengelolanya, memotivasi dan mendorong dirinya untuk maju. EQ juga adalah kemampuan untuk mengenal emosi orang lain, dan membina hubungan yang baik dengan pihak lain.
II. MENGENAL EMOSI DIRI SENDIRI
Pengenalan pada emosi sendiri perlu, agar dengannya kita dapat meningkatkan yang positif, menekan yang negative. Tipe emosi manusia secara umum dapat dikategorikan: (1). Emosi Sanguinis. Orang sanguis adalah orang yang popular. Dia menarik, memukau, ekspresi. Dia terkenal di tempat kerja, di lingkungan rekan sekantor. (2). Emosi Melankolis. Orang Melankolis ini cenderung tertutup, pemikir, dan pesimis. Orang ini mengutamakan kesempurnaan. (3). Emosi orang Koleris. Orang ini bertipe terbuka, pelaku, dan optimis. Orang Koleris kuat di dalam pekerjaan, di dalam cita-cita, di dalam meraih sesuatu. (4). Emosi Plegmatis. Orang ini tertutup, pengamat, pesimis. Orang ini rendah hati, mudah bergaul, santai, diam, konsisten, rapi, simpatik, cerdas, baik hati. Haln yang spesifik pada orang ini adalah pendamai.
III. MENGENAL KEKUATAN EMOSI
Buku yang saya rangkum ini mencatumkan item-item pilihan yang dapat dipakai untuk mengenal Kekuatan Emosi. Orang yang mempunyai skor antara 40-50, maka ia tergolong kuat karakternya. Jika skor antara 25-39, maka kerakternya seimbang. Demikian juga terdapat alat tes untuk melihat Kestabilan Emosi. Nilai 40-50 stabil, 24-39 rata-rata, kurang 24 labil. Sedangkan test untuk melihat emosi dan kebahagiaan, jika orang mempunyai nilai 40-50 tergolong sangat bahagia, 24-39 tergolong puas dengan keadaannya, dan di bawah 24 adalah orang yang kecewa (tidak bahagia).
Setelah mengenal kekuatan emosi, maka penting adalah melatih menilai diri secara akurat dan jujur. Dengan table yang dapat dilihat pada buku aslinya, maka kita melihat ada 4 hal yang menonjol dan saling mempengaruhi emosi kita. 4 hal tersebut adalah supporter, analis, promoter dan controller.
Untuk menguji wilayah di mana kita berada, maka disajikan pula daftar segala jenis cirri kepribadian. Kita dapat memilih kira-kira sepuluh cirri kerpibadian yang paling kuat dan ada pada kita dan yang paling kita kagumi. Dari sini kita akan mengetahui wilayah emosi dominan kuat.
IV. KECERDASAN EMOSI DALAM MEMOTIVASI DIRI SENDIRI
Kita perlu menilik diri kita apakah kita adalah orang ekstrovert atau introvert. Ada tersedia item-item yang dapat kita pilih yang akan menunjukkan kepribadian kita. Jika nilai kita lebih besar dari 24, maka kita adalah orang yang sangat ekstrovert. Jika kita memiliki nilai antara 18-23, maka cukup tinggi. Sedangakn nilai 9-17, kita sedang-sedang saja.
Jika kita menguji kejujuran kita, maka kita akan mendapati skor 22-30 sebagai pribadi yang sangat jujur, 18-21 di atas rata-rata, 13-17 peduli kejujuran, 9-12 kurang ajar, 0-8 hampir tak punya kejujuran. Tet tanggungjawab dengan skor lebih besar 22 sangat bertanggungjawab, 18-21 bertanggungjawab tinggi, 12-17 standar, kurang 11 rendah dalam tanggungjawab. Sedangkan ketenangan sikap, dengan skor besar dari 17 tipe yang sangat cemas, 13-16 panik, 8-12 agak tenang, dan kurang dari 7 sangat tenang dan santai.
V. KECERDASAN MENGELOLA EMOSI MENUJU KEMANDIRIAN HIDUP
Kecerdasan emosi sering lebih dibutuhkan ketimbang kecerdasan kognisi ketika orang merancang usaha. Kecerdasan emosi turut menentukan. Dalam buku tersebut juga terdapat pertanyaan-pertanyaan yang menolong kita mendiagnosa bidang usaha yang dapat dipilih. Jika dari pertanyaan tersebut kita menjawab lebih banyak YA, maka kita berbakat wirausaha, jika banyak TIDAK, maka lebih baik menjadi karyawan. Seiring dengan itu, dalam menjadi seorang wirusaha, maka diperlukan emosi tertentu. Semakin tinggi skor kita, maka prosentase peluang sukses semakin tinggi.
Dalam menempuh bidang usaha, dibutuhkan inisiatif, energy, tujuan yang berkelanjutan, ketekunan, pengetahuan tentang perusahaan, pandangan positif, mengatasi kegagalan, upaya diri, mengambil resiko, memecahkan masalah, kemauan berkonsultasi pada orang lain yang mengerti, kesehatan fisik, kesehatan mental dan emosi, teleransi terhadap ketidakpastian, memanfaatkan masukan, bersaing dengan standar buatan sendiri, mencari tanggungjawab pribadi, percaya diri, kepandaian, keinginan untuk tidak bergantung, imajinasi positif, pencapaian tujuan, oyektif, tujuan, fleksibel, mencipta, jangka panjang, percaya diri, komitmen, inovasi, pengetahuan teknis, hubungan dengan orang lain, akses sumber keuangan, berpikir, menjual, berkomunikasi, berani, menimbang usia. Kecerdesan emosi sebagai wirausaha dapat diukur dengan alat penilaian. Hasil penilaian akan memacu kita untuk meningkatkan emosi yang mendukung wirausaha.
VI. KECERDASAN MEMBINA HUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN
Tes kecerdasan emosi juga menolong kita untuk melihat sikap social kita, apakah kita penyendiri atau kita orang yang dapat berinteraksi dengan baik pada sekitar, sikap positive dan negative kita, control emosi kita, bagaimana kita mengorganisasi pribadi kita, serta sikap persahabatan kita dengan orang lain. Emosi yang baik adalah emosi yang bersahabat dan supel. Emosi yang tidak baik adalah merasa tidak perlu berosialisasi dengan pihak lain. Emosi pribadi dalam hubungannya dengan orang laib akan menolong saat kita berada dalam permusuhan public.
VII. KIAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSI
Omosi adalah bagian dari hidup. Berdasarkan riset yang panjang oleh Goleman, keberhasilan hidup bukan pertama-tama ditentukan oleh kecerdasan intelektual, akan tetapi oleh 4 hal, yakni: kemampuan memotivasi potensi diri, memiliki rasa empati pada orang lain, mendorong anak buah dan lingkungan sekitar bekerja meraih sukses dan trampil menyampaikan pikiran dan emosi dengan baik. Kecerdasan emosi menolong kita mengenali emosi diri sendiri, melepaskan emosi negative, mengenlola emosi sendiri, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, mengelola emosi orang lain, dan meotivasi orang lain.
Kiat agar kita semakin cerdas dalam emosi adalah: memelihara daya pikir aktif, referensi, cita-cita, terbuka, melihat kenyataan, bersitirahat yang cukup, memilah-milah masalah dan bekerja dengan metode.
Kategory
Blog Archive
Anda Pengunjung
Letak Medan
Waktu Berjalan
Pencarian Data
Mengenai Saya
Senin, 18 Januari 2010
Tes Kecerdasan Emosional
Kamis, 14 Januari 2010
STRATEGI MENEKAN BIAYA KULIAH
Sebentar lagi adalah tahun ajaran baru bagi mereka yang baru masuk ke sekolah tinggi, entah itu sekolah tinggi, akademi, institut atau apa pun. Beberapa dari Anda yang memiliki anak umur 18 atau 19 tahun yang akan masuk ke sekolah itu mungkin masih belum memutuskan sekolah mana yang tepat untuk anak Anda. Bisa karena alasan lokasi, mutu, atau yang paling sering: karena masalah biaya.
Bagaimana kalau pada saat ini anak Anda yang berumur 18/19 tahun datang kepada Anda, duduk dan mengatakan: "Mama/Papa, tolong belikan saya mobil baru. Saya tadi melihat mobil baru di koran, dan sepertinya mobil itu cocok buat saya. Saya perlu mobil supaya gampang pergi ke mana-mana. Harganya cuma Rp 45 juta. Beli, ya?"
Apa jawaban Anda? Mungkin Anda akan menolaknya. "Enak saja... Memangnya dia pikir orang tuanya ini pohon uang, apa?" Anda mungkin berpikir bahwa tidak ada seorang pun anak Anda yang bisa datang seenaknya kepada Anda dan minta dibelikan mobil baru.
Tapi bagaimana kalau anak Anda datang kepada Anda, duduk, dan mengatakan: "Mama/Papa, saya sudah lihat tiga sekolah yang menurut saya cukup baik. Saya hitung-hitung, sampai lulus cuma perlu bayar Rp 60 juta. Jadi sekitar Rp 12 juta setahun. Saya ingin masuk ke situ. Bisa, ya?"
Apa jawab Anda? Bukan hanya Anda dan suami/istri akan mengiyakan, tapi mungkin bersedia me-lakukan apa pun supaya anak Anda bisa masuk ke sekolah yang dia inginkan. Anda mungkin akan menguras semua isi tabungan Anda, pinjam uang ke bank, atau mengambil pekerjaan sampingan.
Malah ada lagi cara yang paling mudah, yakni pinjam uang ke saudara. "Ini menyangkut masa depan anak, lo..." begitu pikir Anda. "Jika saya tidak menyanggupinya, berarti saya mungkin akan menghancurkan masa depan anak saya. Uang tidak jadi masalah buat kita. Saya akan pinjam uang kalau perlu. Yang penting dia bisa kuliah di tempat yang dia inginkan."
Yah, kalau pada saat ini Anda tidak memiliki uang cukup untuk mampu membayar biaya kuliah di tempat yang diinginkan anak Anda, maka uang yang Anda pinjam dari bank atau dari saudara untuk bisa membayar biaya kuliah tersebut bisa membuat Anda terpuruk dalam hutang. Entah itu selama beberapa bulan atau beberapa tahun.
Kalau begitu halnya, kenapa Anda tidak mencoba mengakali (baca: menekan) biaya kuliah anak Anda di perguruan tinggi? Ada beberapa strategi yang saya sarankan:
Strategi 1: Bandingkan penghasilan yang kelak akan didapat dengan biaya yang mesti dikeluarkan sekarang
Kalau Anda perhatikan, sebetulnya Anda tidak harus selalu menyekolahkan anak Anda ke perguruan tinggi yang mahal. Sebagai contoh adalah bila anak Anda ingin menjadi seorang antropolog.
Antropolog adalah profesi yang luar biasa dan saya memberikan respek penuh kepada profesi ini. Tapi harus diakui, pada kenyataannya profesi antropolog di Indonesia tidak akan mendapatkan penghasilan yang bisa dikatakan besar. Karena itu, daripada menyekolah-kan anak Anda ke jurusan antropologi di universitas yang mahal, kenapa Anda tidak mempertimbangkan jurusan antropologi di perguruan tinggi yang lebih murah biayanya? Toh itu tidak akan mempengaruhi income anak Anda kelak, kan?
Berkaitan dengan strategi 1 ini ada beberapa hal yang sebaiknya Anda ketahui:
* Kebanyakan perusahaan tidak peduli di mana Anda sekolah. Buat mereka, sudah cukup bila Anda memiliki gelar tertentu seperti S1, misalnya. Ini karena mereka sebetulnya lebih melihat bagaimana pengalaman Anda dan bagaimana kemampuan Anda dalam menjalankan pekerjaan Anda.
Kalau Anda tidak percaya, coba Anda tanyakan hal ini ke bagian SDM di perusahaan Anda, orang macam apa yang akan mereka terima sebagai karyawan baru: mereka yang kuliah di sekolah mahal dan bergengsi tapi kemampuan pas-pasan, atau mereka yang lulusan sekolah tidak terkenal tapi keterampilannya oke.
* Banyak sekali lulusan universitas yang pada akhirnya bekerja di bidang yang jauh berbeda dengan bidang yang mereka tempuh dulu ketika kuliah. Coba ingat-ingat lagi bidang pekerjaan macam apa yang dijalani teman kuliah Anda dulu. Atau lihat teman-teman kerja Anda pada saat ini, apakah semua dari mereka kuliah di bidang yang sama dengan pekerjaan mereka saat ini.
* Banyak sekali lulusan universitas yang sulit dapat kerja, atau hanya bekerja beberapa tahun saja dan kembali ke rumah untuk membesarkan anak. Malahan banyak di antara mereka yang tidak pernah lagi bekerja. Atau, ada juga yang baru kembali bekerja setelah 10 atau 20 tahun berada di rumah (kebanyakan dari mereka ada yang kembali ke sekolah untuk menyegarkan ingatan mereka kembali sebelum mereka kembali masuk ke dunia kerja).
Strategi 2: Cari sekolah S1 yang lebih murah kalau anak Anda ingin terus ke jenjang S2.
Bila anak Anda berencana untuk memasuki bidang pekerjaan yang mensyaratkan gelar S2, akan lebih baik bila Anda mencari sekolah S1 yang tidak mahal. Ini karena sekolah S2 sendiri pada saat ini sudah cukup tinggi biayanya, dan untuk bisa masuk ke sekolah S2, kebanyakan dari sekolah-sekolah S2 itu tidak mensyaratkan agar anak Anda harus lebih dulu masuk ke sekolah S1 yang mahal. Jadi, kenapa Anda harus mencari sekolah S1 yang mahal kalau dengan sekolah S1 yang berbiaya lebih murah anak Anda punya kesempatan yang sama dengan anak-anak lain untuk masuk ke Sekolah S2?
Strategi 3: Beritahu anggaran biaya Anda pada anak Anda - atau kalau perlu libatkan saja dia sekalian.
Anak Anda mungkin mengatakan: "Saya mau sekolah di universitas itu atau ini." Dia tidak mengetahui biayanya sama sekali, dan Anda-lah yang harus mencari tahu berapa biayanya. Dan bila biaya sekolah itu cukup mahal, Anda jadi berpikir-pikir bagaimana caranya agar bisa membayar biayanya. Daripada melakukan hal itu, coba Anda pertimbangkan cara berikut:
1. Tentukan sendiri berapa batas rupiah yang ingin Anda keluarkan untuk membayar biaya kuliah anak Anda. Lalu, tunjukkan angka ini ke anak Anda dan katakan bahwa ia harus memilih sekolah yang biayanya tidak lebih dari angka yang Anda tunjukkan.
2. Atau, minta agar anak Anda yang mengajukan sekolah-sekolah yang sesuai dengan keinginannya, lengkap dengan biayanya serta cara pembayarannya. Ini akan membuatnya mencari tahu sendiri biaya-biaya itu dengan datang langsung ke sekolah yang ia inginkan. Dengan demikian, secara tidak langsung anak Anda akan mengetahui dan bisa "merasakan" apakah biaya kuliah di tempat yang ia inginkan itu memang mahal atau tidak.
Terserah Anda mau percaya atau tidak, tetapi dengan cara seperti ini, anak Anda mungkin akan mau mengusulkan sekolah yang lebih murah dibanding sekolah lain yang lebih mahal dengan bidang kuliah yang sama. Bila ia tidak mengusulkannya, mungkin Anda yang harus melakukannya.
* * *
Pada saat ini, biaya kuliah di universitas swasta yang cukup ternama di Indonesia adalah Rp 60 juta hingga lulus. Setelah lima tahun kuliah dan lulus, maka si sarjana baru akan bekerja dan mendapatkan gaji sebesar, katakan saja Rp 1 juta per bulan.
Dengan asumsi bahwa gaji itu akan naik 15 persen per tahun, maka sarjana itu cuma perlu waktu 4 tahun 1 bulan untuk bisa mendapatkan kembali Rp 60 jutanya. Tentunya dengan asumsi bahwa semua gajinya tidak dibelanjakan.
Bagaimana kalau hanya 80 persen yang dibelanjakan? Ini berarti ada 20 persen dari penghasilan itu yang disisihkan untuk bisa mengembalikan Rp 60 juta tadi. Jika demikian, seberapa lama si sarjana itu bisa mengumpulkan kembali biaya kuliahnya yang Rp 60 juta? Jawabannya: 11 tahun 1 bulan.
Sekarang, bagaimana kalau si sarjana itu bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya dengan bidang kuliahnya? Maka Rp 60 juta yang sudah dikeluarkan orang tuanya bisa dikatakan hampir sia-sia. Karena itu, akan lebih baik apabila sejak awal si sarjana kuliah di tempat yang lebih murah. Toh, bidang pekerjaannya berbeda dengan bidang kuliahnya, kan? Jadi buat apa mengambil kuliah di tempat yang mahal biayanya kalau toh bidang pekerjaannya nanti tak berkaitan dengan bidang kuliah?
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 650/XIII
Rabu, 06 Januari 2010
Sudahkah Mengevaluasi Cara Belajar Siswa Berbakat Anda?
JAKARTA, KOMPAS.com - Mengevaluasi suatu mutu pendidikan banyak dipengaruhi oleh proses mendidik yang terkait erat kebutuhan mengembangkan dan membina bakat tertentu, yaitu keberbakatan kreatif, pada anak didik.
Namun, untuk mengevaluasi berbagai instrumen yang diperlukan dalam mengkaji keberbakatan tersebut perlu ditetapkan pendekatan untuk mengakses keberbakatan itu sendiri.
Menurut Conny R.Semiawan, pemerhati pendidikan dan Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi UI, salah satu instrumen penting untuk mengevaluasi efektifitas lingkungan belajar anak berbakat adalah dengan menggunakan daftar pertanyaan yang mencakup cara/metode penting dari para pengelola dan guru yang menyiapkan lingkungan belajar tersebut.
Beberapa pertanyaan in misalnya, mungkin bisa dijadikan panduan untuk mengevaluasi pola pembelajaran Anda, khususnya pada anak-anak berbakat yang tidak berprestasi:
- Sudahkah Anda membantu siswa berbakat tersebut dan menyadari gaya b elajar mereka?
- Sudahkah bertanya pada mereka, apa yang menjadikan mereka belajar secara efektif?
- Apakah lebih baik membicarakan dan menasehati anak berbakat tentang cara belajar tersebut, selain hanya isi mata pelajaran yang mereka pelajari?
- Apakah di lingkungan belajar Anda diperkenankan mengatakan, bahwa membuat kesalahan adalah kesempatan baik untuk belajar bersungguh-sungguh?
- Apakah Anda mengajarkan pembelajaran terbuka (open-ended), yang memungkinkan lebih dari satu jawaban adalah benar?
- Diperbolehkankah siswa bertanya pada diri mereka sendiri, teman sebaya dan orang lain di kelas?
- Apakah siswa Anda terlibat self assesment?
- Apakah Anda mengembangkan sumber koleksi informasi website dan pusat sumber internal sekolah maupun eksternal?
- Bagaimana Anda menjelaskan, bahwa sumber-sumber tersebut benar bisa dimanfaatkan?
Sudahkah Anda Menilai Pembelajaran Kreativitas Para Siswa?
JAKARTA, KOMPAS.com — Menghadapi peserta didik berbakat, sedikitnya Anda sebagai guru memiliki 10 cara penilaian secara bermutu, apakah pembelajaran kreativitas sudah Anda lakukan di dalam kelas?
Dalam buku yang ditulisnya berjudul Kreativitas Keberbakatan: Mengapa, Apa, dan Bagaimana, Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Conny R Semiawan menuturkan 10 jenis penilaian tersebut. Simak kisi-kisinya!
Perumusan masalah aktivitas guru
Sudahkah Anda sebagai guru benar-benar membantu siswa melihat aspek tertentu berbeda dengan cara yang lazim terjadi di kelas? Banyak cara atau sudut pandang yang bisa didapatkan siswa dari setiap pembelajaran yang Anda berikan.
Analisis ide
Sudahkah Anda membantu siswa secara kritis memahami kekuatan dan kelemahan dari ide-ide mereka?
Menjual ide
Sudahkah Anda membantu siswa menjelaskan, melindungi, dan meningka tkan setiap ide yang diyakini oleh mereka?
Pengendalian isu
Ibarat pedang bersisi ganda, Anda harus membantu siswa mempersiapkan diri bahwa teori-teori Anda memiliki rentangan yang terbatas tentang kebenaran. Artinya, Anda harus memancing peserta didik mencari kebenaran melalui cara pandang mereka.
Menghadang kendala
Anda harus membantu siswa agar selalu sadar bahwa tidak semua pendapatnya bisa diterima oleh orang lain.
Berani ambil risiko
Anda harus bisa membantu meyakinkan siswa untuk selalu sadar dan siap bahwa setiap kreativitas selalu mengandung risiko.
Keinginan tumbuh kembang
Sudahkah Anda membuat siswa berani menantang dirinya sendiri?
Percaya diri
Sudahkah Anda membangun kepercayaan diri siswa dengan memberinya tugas yang berat, lalu membuat perencanaan bersama dengan mereka untuk mengatasinya?
Toleransi
Sudahkah Anda membantu siswa untuk selalu bisa menghormati pendapat orang lain dan "akibat" yang akan mereka terima dengan menghormati pendapat orang lain, seperti perasaan menyesal atau kecewa karena merasa belum bisa menerima kenyataan?
Menyayangi
Sudahkah Anda bisa membuat siswa menghargai segala hal yang telah dilakukannya? Dan, sudahkah Anda menunjukkan bahwa anak didik Anda bisa berhasil dalam bidang tertentu, yang berbeda dari bidang yang sedang digelutinya di dalam kelas?
Rabu, 23 Desember 2009
Saatnya Kembali ke Keluarga dan Agama
Soelastri Soekirno
KOMPAS.com — Kasus bunuh diri terjun dari gedung tinggi kini bak tren di Ibu Kota. Dalam 16 hari, ada lima kasus dugaan bunuh diri. Tekanan hidup membuat korban memilih jalan pintas. Ikatan keluarga dan kedekatan kepada Sang Pencipta menjadi solusi masalah ini.
Ada hal yang tidak biasa dari lima kasus dugaan bunuh diri yang terjadi dari 30 November hingga 15 Desember lalu. Semua korban memilih mal atau apartemen ternama sebagai tempat untuk mengakhiri hidup. Tentu saja kejadian tersebut sangat mudah diketahui orang. Benar saja, dalam waktu singkat, berita soal itu tersebar di situs pertemanan Facebook dan Twitter.
Bayangkan saat para korban itu memilih mal terkenal, semacam Senayan City Plaza dan Grand Indonesia. Tak pelak lagi, saat tubuh Reno Fadillah Hakim (25) yang terjun dari lantai lima terjatuh ke lantai satu mal Senayan City Plaza yang terang benderang, perhatian ratusan pengunjung langsung tersedot ke sana.
Inilah yang memunculkan pertanyaan di benak psikolog klinis Adriana Ginanjar dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
”Heran ya, dulu orang kalau berniat bunuh diri malah malu diketahui banyak orang sehingga memilih melakukannya di tempat tersembunyi, tetapi sekarang kebalikannya,” tutur Adriana pada Jumat (18/12/2009).
Sampai sekarang tampaknya belum ada ahli yang bisa menjelaskan mengapa tren itu tiba-tiba muncul, lalu berturut-turut terjadi. Polisi pun menyatakan sulit memperkirakan latar belakang tindakan nekat para korban dalam kasus yang kemudian disimpulkan sebagai bunuh diri tersebut.
Soal kematian Linda Sari (34), polisi menyimpulkan korban bunuh diri. Linda diduga terjun dari lantai 27 kamar G dan ditemukan meninggal di lantai 7 Apartemen Istana Harmoni, Selasa lalu pukul 15.00.
Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Metro Gambir Inspektur Satu Suhendar memperkirakan kesulitan keuangan sebagai pendorong Linda terjun dari apartemennya. ”Tidak ada tanda-tanda kekerasan sehingga sementara ini kami simpulkan ia bunuh diri,” ujar Suhendar.
Putra Galang (39), orang kepercayaan Linda, mengatakan, Linda mempunyai usaha kredit aneka jenis barang. Sebelum kejadian, ada sekitar 30 orang yang seret mengembalikan pinjaman ke Linda. ”Total uang Linda yang berbentuk piutang ke pihak lain mencapai lebih dari Rp 200 juta,” ucap Putra.
Ia mengakui, Linda merupakan orang baik dan kerap tidak menolak orang yang membutuhkan pinjaman. Tidak heran ada sejumlah kasus pengembalian yang tersendat.
Penyebab bunuh diri Ice Junior (24) dan Reno pada 30 November lalu juga belum bisa dipastikan. Polisi hanya bisa menduga keduanya bunuh diri di dua mal berbeda, yakni Grand Indonesia dan Senayan City Plaza.
Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Tanah Abang Inspektur Satu Sutrisno mengaku tidak mudah mengetahui alasan Ice dan Reno terjun dari lantai lima pusat perbelanjaan.
Dari keterangan keluarga, Ice mempunyai gejala sakit dan susah tidur. Namun, belum bisa dipastikan apakah itu membuatnya memutuskan bunuh diri.
Sementara itu, dari keterangan orangtua Reno kepada polisi diketahui bahwa Reno sempat meminta dikawinkan. Namun, orangtua belum memastikan kapan akan mengabulkan permohonan ini. Dua hari sebelum kejadian, Reno juga tidak makan. Ia meminta agar ditemani berjalan-jalan sampai akhirnya terjadi bunuh diri itu.
Mencermati sedikit gambaran di atas muncul dugaan setidaknya mereka mengalami tekanan dalam skala yang berbeda. Adriana menyatakan, dari sisi keilmuan, kondisi seseorang harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Namun, rata-rata mereka yang nekat bunuh diri biasanya memiliki tekanan (depresi) dalam waktu cukup panjang. ”Keluarga sering tak menyadari keadaan itu,” ucapnya.
Padahal, ketahanan kepribadian setiap orang berbeda. Ada yang mudah bangkit dari masalah yang membelenggu dirinya, tetapi ada pula yang sulit.
Faktor anak yang tumbuh dari keluarga tak harmonis, atau datang dari tempat yang relatif tenang lalu tiba-tiba harus hidup di keriuhan Jakarta yang menuntut serba cepat dan persaingan lebih sulit, juga bisa memunculkan tekanan hidup yang makin berat dan membelenggu seseorang. ”Anak yang tumbuh dari keluarga tak harmonis biasanya cenderung rapuh kepribadiannya,” kata Adriana.
Kondisi itu bukan tidak bisa lagi diatasi. Memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangtua, saudara, kerabat, dan teman menjadi faktor penting. Keluarga bisa memberikan inspirasi dan kekuatan untuk tetap bertahan hidup.
Penderita depresi bisa curhat dan orang di sekelilingnya pun tahu akan keadaan yang bersangkutan.
Hubungan sosial dengan sesama yang baik itu akan lebih lengkap bila memiliki hubungan kuat dengan Tuhan. Mencurahkan isi hati kepada pemberi hidup dan teman akan meringankan tekanan.
Pada akhirnya, kehidupan manusia memang harus kembali ke dasar, berhubungan dekat dengan Sang Pencipta dan keluarga, terutama orangtua
Merenungi Pembelajaran Tahun 2009
KRISTI POERWANDARI, Psikolog
KOMPAS.com - Bagaimana kita sebagai individu dan warga bangsa merenungi hidup pada tahun 2009? Bagaimana penghayatan dominan kita menyongsong tahun 2010?
Esensi pandangan tokoh-tokoh klasik Psikologi semoga masih relevan untuk membantu kita memahami diri. Di tingkat personal, kita masing-masing mempunyai persoalan: gagal dalam hubungan cinta, berkonflik di tempat kerja, dilecehkan, menghayati konflik pribadi, terjebak dalam ketakutan, tak kunjung menemukan pekerjaan, dan sebagainya.
Persoalan terdalam psikologi manusia pada akhirnya lebih terkait dengan penghayatan keberdayaan vs ketidakberdayaan. Konsep yang digunakan dapat berbeda-beda, Alfred Adler yakin manusia rentan menghayati inferioritas. Karen Horney bilang pengalaman sejak dini dapat membuat kita menghayati kecemasan dasar yang terus terbawa hingga dewasa.
Ketidakberdayaan akan dimaknai dan direspons secara berbeda-beda. Cara kita mengatasi persoalan sesungguhnya merupakan upaya untuk mengatasi rasa tak berdaya demi memperoleh (kembali) kekuatan diri.
Bila kita seolah selalu tersandung atau menghayati tema-tema utama persoalan
serupa, dan cenderung melakukan kesalahan sama dalam menyelesaikan masalah, kita perlu serius mempelajari diri sendiri. Apakah kita menampilkan pola respons yang sama yang tidak konstruktif? Rendah diri dan cari kompensasi dengan sok kuasa dan sok pamer?
Apakah kita malu dengan kondisi ekonomi yang terbatas dan malah berutang sehingga dikejar debt collector? Takut disakiti sehingga menghindar dari hubungan? Terluka lalu terjebak dalam promiskuitas seksual? Kecewa pada diri sendiri, lalu mengatasi dengan menghina orang lain dan pasangan? Selalu merasa menjadi korban paling menderita dan ingin menghukum orang lain dengan membunuh diri saja?
Kebermanfaatan sosial
Rasa tak berdaya sering diatasi dengan sikap kaku dan cara-cara yang berpusat pada diri yang sebenarnya tidak secara mendasar menyelesaikan masalah. Rasa takut mungkin membuat kita bertahan dalam hubungan menyakitkan atau sebaliknya malah selalu ingin menguasai orang. Kegamangan kita respons dengan menilai tinggi prestasi dan capaian materi, tampil ramah tetapi pilih-pilih teman dan sesungguhnya hanya untuk tujuan instrumental memperoleh keuntungan diri.
Cara-cara egoistik akhirnya menjadi ”neurotik”, memantapkan kebutuhan berlebihan yang tetap tak pernah sepenuhnya terpuaskan, malah menyisakan kekosongan. Adler mengatakan bahwa pada akhirnya, upaya menggapai superioritas secara bermakna adalah yang mengarah pada kebermanfaatan kita secara sosial. Melihat diri menjadi bagian dari konteks masyarakat yang lebih besar dan ikut melakukan sesuatu yang positif bagi komunitas. Erich Fromm menggunakan konsep ”manusia berorientasi produktif”.
Teori Abraham Maslow mengenai hierarki kebutuhan dan motivasi juga menjelaskan bahwa aktualisasi diri sebenarnya tidak bersifat egoistik, melainkan terarah pada keluasan dan kepenuhan hidup dalam dunia yang dihuni bersama. Untuk yang terlalu muak dengan diri sendiri, yakinlah bahwa kita punya banyak sekali sisi positif dan potensi yang dapat kita gali dan bagi untuk membahagiakan diri dan orang lain.
Produk masyarakat
Psikologi sering terkesan terlalu mikro, cuma sibuk dengan masalah individu yang dilepas dari konteksnya. Padahal, terkait ketidakberdayaan, di tingkat makro kita juga punya persoalan bersama. Fromm menyatakan bahwa kondisi masyarakat sangat berpengaruh terhadap karakteristik dan penghayatan psikologi individu dan kelompok-kelompok individu anggota masyarakat tersebut.
Berita-berita utama pada paruh akhir 2009 (semisal kasus Prita Mulyasari,
pertarungan ”Cicak-Buaya”, dan kasus Century) menjelaskan tema dominan kehidupan berbangsa. Tanpa ikut dalam hiruk pikuk evaluasi siapa benar atau salah, teramati jelas betapa tema penghayatan utama kita adalah kekecewaan, ketidakpercayaan pada hukum dan penguasa, kemuakan, kemarahan, dan mungkin pada sebagian orang, keputusasaan dan fatalisme.
Banyaknya cerita mengenai penyelewengan kekuasaan dan penindasan pada yang rentan menyebabkan masyarakat marah dan merasa tak berdaya. Bagaimana umumnya kita membangun kembali rasa berdaya? Mungkin dengan memilih sibuk dengan urusan diri sendiri, tak peduli orang lain, dan apabila memungkinkan, ikut memanfaatkan situasi.
Respons psikologis masyarakat yang tampil dominan besar akhir-akhir ini adalah dengan membangun generalisasi, pandangan hitam-putih dan ”sosok pahlawan” atau ”sosok sakral”. Cara ini adalah respons psikologis sangat manusiawi dan dapat menjadi kekuatan besar publik meski dalam realitasnya belum tentu benar atau berdampak konstruktif. Bila tidak hati-hati, cara pandang hitam-putih hanya menjebak kita masuk dalam persoalan-persoalan baru. Penguasa menjaga amanah adalah hal terpenting karena membangun kembali kepercayaan publik merupakan pekerjaan sulit.
Harapan
Kekuatan individu pasti terbatas. Tetapi, dalam berbangsa kita melihat gerakan-gerakan masyarakat yang sangat positif dan menghadirkan kesejukan. Ada gerakan damai melawan korupsi atau pengumpulan koin dukungan bagi Prita. Pada akhirnya, di tingkat pribadi ataupun dalam konteks makro semoga harapan tetap ada.
Sejauh kita terus membuka diri dan merawat nurani, pada akhirnya manusia adalah makhluk spiritual yang yakin akan Kekuatan Maha Besar yang akan membimbing langkah kita menuju kebaikan. Selamat menyongsong Tahun Baru 2010...!
Kristi Poerwandari, Psikolog
Hindarkan Diri dari Depresi
KOMPAS.com - Bila rasa tidak berdaya dan ketidakberkemampuan menyerang kita secara intens, maka hal ini akan menuju pada bentuk distres emosional yang disebut depresi. Bila tidak ditangani, depresi bisa berakumulasi menjadi masalah yang serius.
Depresi juga tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi memberi dorongan bunuh diri yang cukup kuat. Manfaatkan hubungan dengan orang-orang terdekat untuk menyalurkan perasaan dan segera cari pertolongan ahli bila stres tidak teratasi.
Mitos: "Saya tak butuh antidepresi, dengan bantuan teman masalah saya bisa selesai."
Fakta: Anda butuh lebih dari sekadar teman untuk melawan depresi. "Mengutarakan perasaan pada teman dan keluarga memang bisa jadi tempat penyaluran rasa stres, namun orang dengan depresi serius akan lebih baik bila memadukan sesi konseling dan obat antidepresan," kata Vivian Burt, MD, PhD, profesor psikiatri dari David Geffen School of Medicine, UCLA, Amerika Serikat.
Mitos: "Punya anak seharusnya membuat bahagia."
Fakta: 15-20 persen ibu yang melahirkan berpotensi mengalami baby blues. Gejala depresi yang paling umum pasca melahirkan adalah perasaan kosong yang luar biasa, merasa tidak berguna dan tidak berharga, banyak menangis, dan lain sebagainya. Berbagi pekerjaan dalam perawatan anak, menulis buku harian, dan menceritakan perasaan pada suami, orangtua, teman, atau dokter, bisa dilakukan untuk mencegah depresi berkembang lebih jauh.
Mitos: "Ini bukan depresi, ini cuma mood swing karena menopause."
Fakta: Menopause bukan alasan untuk tak mencari pertolongan. "Apa pun yang membuat Anda merasa depresi, sekalipun itu karena menopause, Anda butuh bantuan yang nyata untuk keluar dari kondisi ini," kata Burt.
Mitos: "Saya tak ingin membebani orang lain dengan masalah saya".
Fakta: Bicara dengan teman, atau dengan terapis, akan sangat membantu Anda keluar dari rasa kesepian dan putus asa. "Pada usia lanjut, orang lebih rentan mengalami depresi. Itu sebabnya mereka butuh dukungan dari lingkungannya," kata Burt.
Mitos: "Saya orang yang berprinsip dan yakin dengan semua keputusan saya."
Fakta: Pribadi yang rentan terhadap depresi adalah yang kurang terbuka terhadap sosialisasi dan bersikap pasif reaktif. Biasanya orang dalam kelompok ini punya kecenderungan kuat untuk berpikir sendiri serta selalu berupaya memecahkan masalah sendiri tanpa menyertakan pertimbangan dari orang lain, lingkungan, atau kenyataan. Hal spesifik pada penderita depresi adalah sering menghukum diri dengan pikiran yang sebenarnya membuat mereka susah sendiri
Dikutip dari Kompas.com
Jumat, 11 Desember 2009
Waspadai Kecurigaan Yang Luar Biasa
KOMPAS.com - Boleh saja orang bilang bahwa ilmu pengetahuan berkembang karena ada kecurigaan. Namun jika kecurigaan itu didasarkan pada perasaan tidak aman, sebaiknya jangan dibiarkan karena bisa berkembang menjadi paranoia.
Pada masa lalu banyak warga masyarakat kita yang enggan bicara apa adanya tentang keadaan buruk yang menimpa mereka. Keengganan itu umumnya didasarkan pada perasaan takut yang luar biasa bahwa mereka akan dijebloskan ke penjara dan dituduh menghina pemerintah atau melakukan tindakan subversi. Tembok pun sepertinya bertelinga, sehingga mereka harus bisik-bisik jika memiliki keberanian berbicara.
Sebaliknya, kebanyakan pejabat negara pun suka bertindak berlebihan dengan alasan ‘demi stabilitas dan keamanan’, meskipun tidak terlalu jelas apa yang sebenarnya telah membuat tidak aman dan tidak stabil.
Terhadap perilaku rakyat maupun pejabat negara itu, kalangan yang kritis pada waktu itu biasanya memberikan label ‘paranoid’ atau sakit curiga. Gejala semacam itu akhir-akhir ini sudah semakin hilang, bahkan yang terlihat adalah eforia kebebasan berbicara.
Terancam Gengster
Lain lagi dengan Herman (bukan nama sebenarnya) yang berprofesi sebagai pengacara. Ada atau tidak ada pergantian rejim, ia memiliki kecurigaan yang luar biasa. Pada suatu hari ia dibawa oleh keluarganya ke sebuah klinik psikiatri, karena selalu merasa terancam oleh kelompok gengster yang mau menangkap, menyiksa dan membunuhnya.
Herman merasakan ketakutannya itu sejak ia mendengar bahwa banyak perkara hutang piutang perusahaan yang tidak lagi ditangani pengacara melainkan oleh kelompok preman.
Herman juga bercerita bahwa dirinya ‘dimatai-matai’ oleh kelompok gengster, karena ia sering melihat ‘orang-orang berwajah sangar’ di lobi gedung di mana ia berkantor. Ia pun merasa nyaris ‘diculik’ karena melihat ada mobil boks parkir di depan rumahnya.
Saat pergi ke luar kota pun, Herman merasa dirinya ‘dibuntuti’ oleh petugas yang menurutnya dibayar oleh pimpinan gengster itu. Keyakinannya itu didasarkan pada fakta bahwa ia melihat dua orang memakai jaket kulit di lobi hotel. Saat di bandara pun ia melihat beberapa pria mengenakan jaket kulit yang memandangi dirinya dengan seksama.
Saat dibawa ke klinik itu Herman merasa aman, karena tidak ada lagi yang mengawasi dan mengejar-ngejarnya. Maka bagi yang melihatnya pun tak terlihat ada yang tidak wajar pada kejiwaan Herman. Ia tampak sungguh sehat jasmani dan rohani.
Ketidakwajaran baru muncul setelah Herman pada suatu pagi meminta dihadirkan pastur, karena ia ingin mengaku dosa. Usai mengaku dosa, ia bercerita kepada dokter mengenai penyesalannya mengapa berbicara banyak kepada orang asing, yaitu pastur tadi.
Herman merasa telepon genggamnya telah ‘disadap’ oleh pihak gengster yang mengincarnya, sehingga mereka mengirimkan pastur gadungan kepadanya. Ia meyakini hal itu setelah melihat pastur yang datang wajahnya tidak ramah dan tangannya kasar. Sejak itu Herman meminta dipindahkan ke rumahsakit yang dijaga ketat oleh tentara.
Didasarkan Delusi
Paranoia secara umum memang merujuk pada kecenderungan seseorang atau suatu kelompok masyarakat untuk memiliki kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain, yang tidak didasarkan pada kenyataan obyektif melainkan pada kebutuhan untuk mempertahankan egonya. Dorongan bawah sadar ini merupakan suatu proyeksi dari mekanisme pertahanan diri, dan seringkali juga merupakan bentuk kompensasi waham megalomania (merasa diri paling hebat).
Pengertian paranoia yang lain merujuk pada gangguan psikosis berupa kecenderungan perilaku yang didominasi oleh reaksi yang didasarkan pada delusi (angan-angan atau khayalan). Menurut Norman Cameron, MD., Ph.D dalam buku An Outline of Abnormal Psychology delusi itu menyangkut dua hal, yaitu penyiksaan dan waham kemegahan atau kebesaran.
Perilaku yang didasarkan pada khayalan ini sebetulnya wajar terjadi pada orang yang normal, dan juga sangat umum pada orang yang memiliki kebutuhan khusus atau mengalami kecemasan.
Orang yang merasa tidak aman akan mengembangkan khayalan yang membuatnya bereaksi sangat sensitif terhadap apa pun yang merangsangnya, sementara sikap yang relatif tidak emosional dan reaksi dari individu yang memiliki rasa aman yang cukup akan cenderung mencegah berkembangnya perilaku berkhayal.
Peristiwa berkhayal ini juga kerap terjadi karena orang harus melanjutkan aksinya yang tidak didasarkan pada data yang lengkap dan pasti. Aksi berkhayal ini bisa dihentikan selama orang yang bersangkutan mau berusaha mencari kelengkapan dan kepastian data.
Namun pada orang-orang tertentu yang memiliki kecemasan tinggi membutuhkan kepastian yang absolut, dan kebiasaan seperti ini menurut Cameron bisa menyebabkan berkembangnya perilaku patologis yang serius.
Pada kasus Herman, paranoia yang dialaminya berkembang sejak kecil karena ia memiliki rasa aman yang sangat rendah. Perasaan itu muncul karena ia merasa tidak diperhatikan dan ‘dibuang’ oleh orangtuanya, dan selama Herman tinggal berpindah-pindah dari satu famili ke famili lain ia tidak mendapatkan rasa aman itu. Sampai dewasa dan menjadi pengacara pun, kebutuhan akan rasa aman ini tak pernah tercukupi oleh status sosial maupun ekonominya.
Maka, jangan abaikan kebutuhan rasa aman pada anak-anak kita.
Sumber : www.gayahiduponline.com
Stres Pada Orang Optimis dan Pesimis
KOMPAS.com - Perbedaan sifat individu ternyata mempengaruhi reaksi mereka terhadap stres yang dialami. Orang yang bersifat optimistis lebih mudah beradaptasi secara fisik maupun psikis terhadap stres dibanding mereka yang pesimistis.
Banyak tulisan di media massa maupun dalam berbagai seminar yang mengingatkan bahwa stres yang berat dan berkepanjangan akan mempengaruhi kesehatan fisik maupun psikis seseorang. Sementara itu dalam kehidupan sehari-hari kita melihat bahwa ternyata tidak semua orang memiliki reaksi
sama terhadap stres yang sama. Bahkan tingkat stres yang ringan bagi si A bisa dirasakan sebagai tekanan berat bagi si B sehingga ia mengalami sakit yang berkaitan dengan stres.
Contohnya adalah Andi yang begitu cepat memulihkan diri setelah mengalami kehilangan besar, kekecewaan yang dalam dan bahkan penderitaan yang hebat akibat krismon tahun 1997. Namun tidak dengan Indra yang ternyata butuh waktu sangat lama dan bertahun-tahun untuk bisa mengembalikan dirinya pada situasi normal.
Apa yang menjadi penyebabnya? Mengapa bisa demikian? Menurut Camille B Wortman dan kawan-kawan dalam buku Psychology, hal itu terjadi karena ada perbedaan kepribadian. Para ahli telah menelusuri bahwa dimensi kepribadian yang tampaknya berkaitan dengan stres dan penyakit yang ditimbulkan oleh stres, adalah sifat optimistis dan pesimistis yang dimiliki seseorang.
Dalam penelitian yang dilakukan terhadap para mahasiswa misalnya, mereka yang optimistis dan memiliki nilai ujian tinggi ternyata lebih sedikit yang mengalami gejala penyakit seperti sakit kepala dan sakit perut, dibandingkan dengan mahasiswa yang nilainya rendah.
Penelitian lain pun membuktikan bahwa mahasiswa yang pesimistis ternyata dua kali lebih banyak yang mengalami berbagai sakit infeksi dan mengunjungi dokter dua kali lebih sering ketimbang mahasiswa yang optimistis. Maka disimpulkan baru-baru ini oleh para ahli bahwa individu yang optimistis cenderung lebih mudah beradaptasi secara fisik maupun psikis terhadap stres.
Ciri Yang Dikenali
Lantas, bagaimana kita bisa mengenali diri maupun orang lain termasuk kelompok optimistis atau pesimistis? Menurut Worthman dan kawan-kawan, ciri-cirinya dapat diketahui dari bagaimana orang tersebut bereaksi terhadap suatu masalah.
Orang yang pesimistis cenderung untuk menyalahkan diri sendiri jika terjadi masalah yang buruk. Misalnya dia berkata, "Ini kesalahan saya." Biasanya mereka juga berlebihan menyimpulkan masalah tersebut, dengan berkata,
Masalah ini nggak akan pernah selesai," dan, "Semua ikut kacau jadinya."
Bahkan menurut Wortman, orang yang pesimistis lantas mengaitkan peristiwa kecil di masa lalu dan dianggapnya sebagai ancaman terhadap kemampuannya untuk menghadapi masalah hari ini.
Sebaliknya, orang yang bersifat optimistis cenderung mengaitkan kejadian yang buruk dengan faktor di luar dirinya, dan biasanya hanya bersifat terbatas serta sementara. "Itu bukan kesalahan saya," begitu biasanya mereka berkata, atau, "Ini tidak boleh terjadi lagi," dan juga, "Ini bukan akhir dunia." Mereka yakin bahwa hal-hal yang baik akan terjadi pada mereka dan bahwa mereka akan mampu mengatasi apa pun masalah yang bakal terjadi.
Mengukur Kecenderungan
Untuk mengetahui bagaimana kecenderungan seseorang, termasuk optimistis atau pesimistis, berikut ini adalah pertanyaan yang dipakai Scheier&Carver untuk mengukurnya. Responden hanya diminta untuk menjawab "salah" atau "benar".
Sayangnya tidak dijelaskan bagaimana cara mengukurnya, sehingga kita tidak bisa menggunakannya secara tepat. Namun demikian kita tetap dapat memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini sebagai bahan introspeksi, bahwa ada sudut-sudut pandang tertentu yang mungkin kurang kita sadari ternyata menjadi penting secara psikologis dan memperlihatkan kepribadian kita. Jika perlu, diskusikan dengan pakar yang Anda percayai.
1. Dalam waktu yang tidak tentu (pada umumnya) saya biasanya mengharapkan segala sesuatu yang terbaik.
2. Jika sesuatu yang keliru bisa terjadi pada saya, maka akan terjadi.
3. Saya selalu melihat sisi terang (sisi baik) sesuatu hal.
4. Saya selalu optimistis terhadap masa depan saya.
5. Saya berusaha keras agar segala sesuatu berlangsung menurut cara saya.
6. Segala sesuatu tidak pernah berhasil sesuai cara yang saya inginkan.
7. Saya seorang yang percaya pada ide bahwa 'setiap mendung memiliki garis
keperakannya'.
8. Saya jarang mengandalkan hal-hal baik yang terjadi pada saya.
Sumber : www.gayahidupsehatonline.com
7 Cara Mengatasi Kemarahan
KOMPAS.com — Sifat gampang marah ternyata bisa diubah, demikian pendapat para peneliti kesehatan mental. Pada salah satu penelitian berhasil ditemukan bahwa risiko serangan jantung bisa ditekan dengan mengurangi rasa marah. Bagaimana cara mengurangi keinginan untuk marah supaya tidak lekas jantungan?
1. Rajin berolahraga secara teratur dapat mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati sehingga bisa mengatasi naik turunnya emosi. Yoga dan olahraga yang membuat rileks efektif untuk mengatasi sifat mudah marah.
2. Tanyakan kepada diri sendiri apakah dengan marah-marah akan bermanfaat juga buat orang-orang di sekitar Anda. Misalnya, tanyakan “Apakah saya dapat mengontrol situasi ini? Dapatkah saya mengubahnya menjadi lebih baik dengan marah-marah?”
3. Atasi ketegangan dengan mengambil beberapa napas dalam dan membuat otot-otot rileks. Bisa juga dengan mendengarkan musik lembut atau memvisualkan diri sendiri tengah berlibur di tempat favorit.
4. Periksa lagi bagaimana cara Anda berkomunikasi dengan orang lain. Banyak situasi yang menyulut kemarahan melibatkan orang lain. Saat diskusi menjadi panas dan membuat marah, hitung sampai 10 sebelum bicara. Ambil napas terlebih dahulu. Dengarkan lawan bicara secara seksama.
5. Coba sisipkan humor karena terbukti efektif meredakan kemarahan.
6. Cari alternatif, apakah Anda hanya marah-marah pada situasi tertentu? Selama beberapa minggu, buat catatan kapan dan di mana Anda biasa marah-marah. Kemudian lihat apakah ada kecenderungan tertentu yang memicu kemarahan.
7. Pertimbangkan konseling bila perlu. Ceritakan pada dokter soal kebiasaan Anda ini. Dokter itu akan merujukkan Anda pada orang yang ahli.
Sumber : www.gayahidupsehatonline.com
Pentingnya Minum Air yang Cukup Setiap Hari
Air merupakan salah satu kebutuhan penting bagi mahluk hidup. Tanpa air manusia hanya bisa bertahan hidup selama 9-10 hari, sedangkan tanpa makanan manusia bisa bertahan hidup selama 45-65 hari. Walaupun demikian seringkali kita meremehkan asupan air ini, terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan oleh The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) 2009 yang menunjukkan bahwa sebanyak 46,1 % penduduk mengalami dehidrasi ringan, hal itu diungkapkan oleh Ketua Penelitian THIRST, Prof.Dr.Ir Hardinsyah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah persentase dehidrasi ringan pada remaja lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa.
Penelitian THIRST 2009 ini merupakan hasil kerjasama 3 perguruan tinggi di Indonesia, yaitu : Fakultas Ekologi Manusia ITB Bogor, Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR serta pasca sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2009 dengan mengambil sampel 1200 orang pada 4 lokasi yang berbeda di Indonesia, yaitu di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur & Sulawesi Selatan.
Komposisi manusia dewasa sekitar 60-70 % terdiri dari air, sementara pada bayi hampir 80 % tubuhnya terdiri dari air, dan pada janin bahkan lebih dari 90 % tubuhnya terdiri dari air. Air dibutuhkan oleh semua bagian tubuh manusia untuk dapat melakukan aktivitasnya. Guna air bagi tubuh antara lain sebagai : bahan pembentukan sel, bahan pembawa, pengatur suhu, pelarut, pereaksi, pelumas & sebagai bantalan/adsorber.
Jumlah air yang dibutuhkan oleh tubuh sangat bervariasi, tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsi, suhu & kelembaban lingkungan, tingkat aktivitas tubuh, jenis kelamin, serta usia & kondisi tubuh. Kira-kira tubuh memerlukan sekitar 2 - 2,5 liter air perhari, jumlah kebutuhan air ini sudah termasuk asupan dari air minum & makanan.
Tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air ini, salah satunya adalah melalui rasa haus. Rasa haus merupakan mekanisme alami dalam mempertahankan asupan air dalam tubuh & merupakan petunjuk bahwa tubuh sedang mengalami dehidrasi (kehilangan cairan tubuh). Ketika tubuh merasa haus (biasanya terasa di bagian lidah) maka sebenarnya tubuh sedang memberikan sinyal karena mengalami defisit cairan.
Sangat penting bagi kita untuk minum air sebelum merasa haus supaya keseimbangan cairan tubuh tetap terjaga. Di Indonesia sendiri, di dalam pedoman umum gizi seimbang yang dikeluarkan oleh Depkes dianjurkan supaya kita mengkonsumsi air minum minimal 2 liter atau 8 gelas sehari untuk memenuhi kebutuhan cairan dan menjaga kesehatan.
Cara mudah untuk mengetahui status hidrasi (keseimbangan cairan tubuh) kita adalah dengan mencek warna urin yang dikeluarkan. Bila urin yang dikeluarkan berwarna kuning pucat & tidak berbau maka menunjukkan status hidrasi yang baik. Sedangkan apabila urin berwarna oranye kuning dengan bau yang menyengat, maka hal ini menunjukkan bahwa tubuh perlu asupan air lebih banyak agar tidak mengalami dehidrasi.
Dehidrasi dapat terjadi akibat tubuh kehilangan air lebih banyak dibadingkan dengan asupannya. Namun dehidrasi juga dapat berkaitan dengan kadar garam mineral (terutama natrium dan kalium) dalam tubuh. Dehidrasi dapat disebabkan oleh muntah, diare, demam, penggunaan obat yang mengakibatkan banyak kencing, keringat berlebih karena cuaca panas dll.
Dehidrasi ditunjukkan dengan tanda-tanda : rasa haus, air seni sedikit dan pekat, jumlah keringat sedikit, mulut kering, tubuh lemas, hingga kulit yang kehilangan kekenyalannya. Dehidrasi juga dapat menyebabkan turunnya tekanan darah sehingga muncul rasa pusing ketika berdiri. Jika dehidrasi semakin tinggi dapat memicu penurunan kesadaran hingga kerusakan otak, karena otak adalah organ yang paling sensitif terhadap kekurangan air.
Tidak minum cukup air dalam jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah yang meninggi, peredaran darah memburuk, pencernaan terganggu, fungsi ginjal rusak, meningkatnya resiko untuk terbentuknya batu di ginjal dan juga resiko untuk mengalami infeksi saluran kencing.
Oleh karena itu penting bagi kita untuk minum air yang cukup setiap hari. Karena dengan minum air yang cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya dehidrasi sehingga kesehatan tubuh akan lebih baik dan juga meningkatkan kemampuan fisik dan mental yang lebih baik lagi
Kamis, 10 Desember 2009
MEMIKAT HRD DENGAN SURAT LAMARAN DAN CV
Surat lamaran dan curriculum vitae (CV) merupakan kunci pertama pembuka gerbang karir idaman Anda. Dengan surat lamaran dan CV inilah, perusahaan mengenal dan mengetahui kualifikasi Anda. Maka, pembuatannya tidak boleh asal jadi, tapi harus benarbenar menarik HRD perusahaan yang Anda lamar.
Sebelum menulis, pastikan Anda tahu syarat dan kualifikasi yang diharapkan perusahaan, kemudian cobalah untuk memenuhi semua syarat yang diminta tersebut. Misal, bila lowongan menggunakan bahasa Inggris atau ada permintaan menulis lamaran dengan bahasa Inggris, maka Anda harus membuat lamaran dalam bahasa Inggris.
Surat lamaran biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pembuka berisi asal informasi lowongan yang Anda peroleh dan posisi yang dilamar. Bagian utama berisi kualifikasi yang Anda miliki, latar belakang pendidikan, dan karakter kepribadian Anda. Bagian terakhir adalah bagian penutup, tuliskan rasa terima kasih Anda dan tanya tentang kelanjutan lamaran ini. Cukup satu halaman.
CV pada umumnya terdiri dari 6 bagian, yaitu data pribadi, riwayat pendidikan dan kursus, pengalaman kerja, pengalaman organisasi, prestasi, dan keahlian khusus. Cukup dua halaman saja. Jangan menggunakan formulir daftar riwayat hidup yang dijual dipasaran!
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis surat lamaran dan CV adalah buatlah dengan singkat dan padat, pastikan surat lamaran serta CV Anda dapat mudah dan cepat terbaca. Gunakan standar surat bisnis berformat formal, kertas putih A4 80 gram, font Times New Roman, dan spasi 1,5. Hindari kesalahan tata bahasa, ejaan, dan tanda baca. Tuliskan hal-hal yang spesifik dan relevan dengan posisi yang Anda lamar.
Bila Anda melamar bidang pekerjaan yang menuntut kreatifitas dan seni, seperti entertain atau advertising, maka Anda dapat lebih kreatif dalam membuat surat lamaran maupun CV. Jangan lupa sertakan pula portofolio Anda.
Pengiriman lamaran dapat dilakukan melalui email, maka sediakan juga format lamaran dalam bentuk softcopy, mulai dari surat lamaran, CV, foto, dan scan berkas-berkas pendukung lainnya. Usahakan menggunakan program standar dan kapasitas tidak lebih dari 10 MB.
Minggu, 29 November 2009
Hindari 6 Pembunuh Karir Anda
Anda pasti baru saja memasukkan kata “karir” dalam daftar resolusi 2008 yang Anda buat sebulan yang lalu. Bagaimana sejauh ini, apakah Anda sudah mengambil langkah-langkah awal untuk mewujudkannya? Apapun yang Anda harapkan dari karir Anda tahun ini, yang pasti merujuk pada perkembangan, kemajuan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan menjanjikan.
Sambil terus melakukan upaya-upaya yang mendukung terpenuhinya harapan-harapan tersebut, Anda juga perlu mengenali faktor-faktor penghambatnya. Dengan mengenalinya sejak dini, akan akan terhindar dari kemungkinan kegagalan yang tidak Anda perhitungkan. Setidaknya ada 6 “dosa” yang harus Anda hindari di tempat kerja. Kalau tidak, 6 hal itu tidak hanya akan menjadi perintang melainkan bahkan juga akan membunuh karir Anda.
1. Bangga
Keberhasilan demi keberhasilan di tempat kerja membuat Anda merasa luar biasa sehingga cenderung mengecilkan fakta bahwa itu semua tak lepas dari dukungan atau pun asistensi orang-orang di sekitar Anda, dan khususnya mereka yang berada di bawah Anda. Anda pun menjadi seorang yang egosentris, dam lambat-laun –mungkin tanpa Anda sadari- mulai meremehkan dukungan orang lain. Kebanggaan pada diri yang berlebihan akan mematikan semangat tim yang hakikatnya dibangun dari bawah dan bisa mempercepat laju karir seseorang. Merasa diri adalah bagian dari kesatuan sebuah tim, akan memberi sukses yang berjangka panjang.
2. Iri Hati
Penghargaan kepada individu diberikan oleh perusahaan berdasarkan prestasi yang dicapai oleh yang bersangkutan. Tapi, Anda selalu mempertanyakan, “Apa dia pantas mendapatkannya?” dan lalu merasa, “Saya lebih pantas.” Perasaan seperti itu bisa merusak dan menjauhkan Anda dari kemampuan untuk fokus pada tugas dan tanggung jawab yang ada di tangan Anda sendiri. Menjadi orang yang selalu mencemburui orang lain di tempat kerja bisa menyabotase harga diri Anda. Dan, harga diri adalah karakteristik penting dari setiap pekerja atau pun eksekutif yang sukses. Daripada iri hati, lebih baik saling bergandeng tangan bahu-membahu, dan itu bisa memotivasi kerja menuju sukses.
3. Marah
Kemarahan perlu dikontrol. Marah tidak memberi keuntungan apapun di tempat kerja. Tak seorang pun akan terbantu kalau Anda marah. Sebaliknya, marah hanya akan merusak reputasi dan citra Anda di mata teman, atasan maupun bawahan. Boleh saja Anda tidak setuju dengan orang lain, dan berusaha untuk melindungi kepentingan Anda akan sebuah pekerjaan atau proyek yang sedang Anda tangani. Dan bagus kalau Anda merasa passionate pada tugas Anda. Namun pelajarilah bagaimana menyalurkan emosi-emosi itu dalam aksi-aksi yang akan menguntungkan Anda di mata orang lain, khususnya tentu di mata atasan. Seorang yang mudah marah jarang sekali mendapatkan promosi kenaikan jabatan karena dinilai akan sulit menginspirasi atau memotivasi orang lain.
4. Berpikir pendek
Selalu ingin “lebih” dan “segera” adalah hasrat yang mendasari setiap usaha untuk mencapai tujuan-tujuan karir. Namun, menyalurkan hasrat itu secara ekstrim, misalnya dengan “menghalalkan segala cara” akan merugikan diri sendiri. Anda jadi kehilangan arah dan kehidupan Anda menjadi tidak seimbang. Jalan menuju sukses menghendaki pendekatan jangka panjang dalam semua aspek pekerjaan. Fokus pada kecepatan dan capaian-capaian jangka pendek hanya baik untuk sesaat, dan ketika dihadapkan pada hal-hal di tahap berikutnya, Anda tidak siap.
5. Mudah puas
Pada sisi lain, mudah puas dan kemalasan tidak memiliki tempat di dunia kerja. Setelah berhasil mencapai satu tahap lalu berhenti dan berharap capaian itu bisa mengantarkan ke sukses berikutnya dalam perjalanan karir adalah mustahil. Lebih-lebih dalam iklim kompetitif dewasa ini, hanya mereka yang terus berproses dan menindaklanjuti pertumbuhannya, dan senantiasai memperbarui kontribusinya yang akan sukses.
6. Ketidakseimbangan
Sejumlah orang bergerak naik terlalu cepat dalam jenjang jabatan perusahaan tapi kemudian berakhir dengan kegagalan. Segala yang berlebihan dan tidak wajar tidaklah bagus –khususnya jika Anda tidak siap dengan tantangannya. Penting untuk memastikan bahwa Anda tidak hanya siap secara profesional untuk mengambil tantangan yang lebih besar, tapi juga kehidupan personal juga mesti disiapkan untuk tuntutan-tuntutan baru tersebut. Mencapai sukses karir sebaiknya tidak mengesampingkan keseimbangan hidup, dan hasrat profesional yang “salah tempat” bisa menciptakan masalah di kemudian hari.
Sumber : portalhr.com
Minggu, 12 April 2009
Memperbaiki Flash Disk yang tiba-tiba mati
Kalau memang kasus seperti ini yang anda alami terhadap kerusakan flash disk anda. jangan khawatir kita masih bisa coba untuk menyelamatkan dan menghidupkanya lagi. Berikut ini langkah-langkah untuk memperbaikinya:
1.Softawre yang kita perlukan untuk keperluan ini adalah HP Drive Boot Utility (buatan HP namun jangan khawatir ternyata bisa kita gunakan untuk merek yang lainya. Bahkan untuk memory kamera juga). Anda bisa download di sini.
2.Setelah di download, jalankan dan pilih drive untuk falsh disk yang akan diperbaiki.
3.Pilih tipe format disk yang mau di gunakan (FAT, FAT32 atau NTFS)
4.Pilih Quick Format
5.Kemudian pilih start untuk memulainya.
Selengkapnya Baca...Memperbaiki Flash Disk yang tiba-tiba mati...
Tips Merawat Flash Disk
1. Jauhkan Dari Medan Magnet Kuat
Barang-barang elektronik seperti tv dan handphone sangat tidak baik untuk flash disk. Untuk itu jangan pernah menyimpannya di dekat barang-barang sejenis yang memiliki kekuatan magnet besar. Terkadang kita sering lupa jika meletakkan flash disk dan hand phone di tempat sama dalam tas. Nah mulai saat ini, kalau pingin flash disk kamu berumur panjang, jangan lagi menyimpannya di tempat sama ya?!
2. Jangan Terkena Air
Meski ada beberapa merk yang mengklaim waterproof, menjauhkan flash disk dari sentuhan air tetap saja menjadi langkah yang paling aman. Daripada data kamu hilang, mendingan tidak ambil resiko kan?
3. Virus Scan
Saat Pengambilan data atau pemindahan dari dari pc ke flash disk, sangat mungkin bukan hanya data yang ikut berpindah tapi juga virus-virus yang terdapat dalam komputer. Apalagi kalau kita mengambil dan menyimpan data dari internet. Waduh flash disk kamu bisa dipenuhi virus-virus pengganggu. Makanya, jangan lupa untuk melakukan ritual scan virus secara berkala dengan software anti virus yang tersedia.
4. Proses Eject atau Stop
Selalu melakukan proses eject atau stop sebelum mencabut flash disk dari port usb. Selain bisa menjadikan flash disk rusak, tidak melakukan proses eject atau stop juga dapat mempengaruhi file-file data yang kamu simpan di dalamnya lho.
5. Jauhkan Dari Tempat Panas
Semua barang elektronik tak terkecuali flash disk sangat rentan dengan yang namanya panas. Apalagi terkena sinar matahari langsung. Jadi usahakan tidak menyimpannya ditempat yang panas dan terkena sinar matahari langsung. Misalnya seperti meninggalkan flash disk di mobil.
6. Hindari Benturan Keras
Coba rasain kalau kamu jatuh dari lantai 12, kamu bisa jadi harus masuk rumah sakit atau bahkan masuk ke rumah masa depan. Begitu juga dengan flash disk. Jadi jagalah flash disk kamu baik-baik dari benturan keras ya.
7. Tutuplah selalu
Udara dan lingkungan kita penuh dengan debu dan kotoran. Jika socket flash disk kita kotor maka dapat mengakibatkan proses baca tulis sering gagal. Makanya selalu tutup biar nggak kotor, jangan malah diilangin tutupnya!
8. Minimalisir proses hapus-tulis
Sama seperti kita, flash disk juga memiliki usia lho. Artinya suatu saat flash disk kita bisa mati dan tidak bisa digunakan lagi. Usia flash disk berbeda-beda, tergantung kualitas dan merk dari flash disk itu sendiri. Biasanya usia flash disk antara 10.000-100.000 kali proses hapus tulis. Jadi usahakan untuk meminimalisir proses tersebut dan juga jangan mengedit langsung dari flash disk.
Selengkapnya Baca...Tips Merawat Flash Disk...
Informasi Tugas Akhir
Pertemuan Tugas Akhir
Kamis, 15 Januari 2009
Asal Mula Danau Toba - Sumatra Utara
Asal Mula Danau Toba - Sumatra Utara
Pada zaman dahulu adalah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya.
Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.
Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor iakan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu,tidak pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing. Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketika meninggalkan sungai untuk pulang kerumahnya hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.
Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tampak terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk kekamar.
Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri dihadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.
Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan itu menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.
Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir. Anak itu sngat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.
Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yanng mengantarkan nasi ke ladang.
Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesl pergilah ia mengantarkan nasi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya diladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasinya itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan: “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”
Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya di ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.
Ketika tampak oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.
Selengkapnya Baca...Asal Mula Danau Toba - Sumatra Utara...
